• +6285339226561
  • komodoamazing92@gmail.com
    • SEMANA SANTA, LARANTUKA

      Semana Santa merupakan tradisi lama Gereja Katolik,dan Kota Larantuka yang terletak di Pulau Flores bagian timur mewarisi tradisi ini dari para Misionaris Portugis dan dilakukan secara turun temurun selama 5 abad dan bertahan hingga sekarang.Tradisi ini dilakukan setiap Tahun pada saat Paskah (mengenang kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus),perayaan ini telah menjadi agenda tetap  Pemerintah Kab.Flores Timur dalam menggaet wisatawan khususnya wisata religi,setiap tahun menjelang Paskah Kota Larantuka dipadati pengunjung(baik local maupun mancanegara) untuk menyaksikan secara langsung prosesi keramat dan suci ini.

      Prosesi Semana Santa

      Berikut beberapa Tahapan Prosesi suci Semana Santa:

      Rabu Trewa(Rabu Terbelenggu)

      Dalam Tradisi Semana Santa Gereja Katolik di Larantuka,Flores Timur dimulai pada hari Rabu(1 hari sebelum Kamis Putih) atau dikenal dengan sebutan Rabu Trewa(Rabu Terbelenggu) dimana Peziarah dan umat mulai berkumpul dan berdoa untuk mengenang Tuhan Yesus yang dikhianati oleh MuridNya Yudas Iskariot.Saat berdoa sebagian umat menyanyikan ratapan Mazmur dalam bahasa Latin.Pukul 15.00 sore secara beriringan mengetukkan bunyi bunyian diseluruh Larantuka,hal ini sebagai penanda saat memasuki masa berkabung,setelah itu,siapapun tidak diperkenankan untuk membunyikan sesuatu atau bekerja sehingga Larantuka berubah menjadi Kota Perkabungan suci.

      Kamis Putih

      Pada saat Kamis Putih ada prosesi”Muda Tuan” di Kapel Tuan Ma (Bunda Maria),prosesi ini merupakan proses pembukaan peti yang selama setahun ditutup  oleh Petugas “Conferia”(sebuah organisasi khusus dalam Gereja yang telah diangkat melalui sumpah).Setelah diangkat dari Peti Arca Tuan Ma dibersihkan dan dimandikan lalu diselimuti busana tanda berkabung berupa Jubah atau Mantel berwarna hitam,ungu atau beludru biru.Pada saat itu Peziarah dan umat berdoa dalam suasana hening dan sacral lalu secara bergantian melakukan penyembahan”Cium Tuan” disejumlah Situs Rohani,diantaranya di Kapel Tuan Ma(Bunda Maria),Kapel Tuan Ana(Tuhan Yesus),Kapel Tuan Maninu(Patung Kanak Yesus) dan Patung Tuan berdiri (Patung Tuhan Yesus berdiri dengan Ayam jantan di KananNya) sebagai bentuk Doa kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria(Per Mariam ad Jesum).

      Sore harinya diadakan upacara Tikam Turo,yaitu pemasangan tiang lilin dikiri dan kanan sepanjang rute Perarakan Jum’at Agung oleh”Mardomu” yaitu orang/keluarga yang mengajukan diri sesuai dengan nazarnya yaitu melayani Tuhan.Malam harinya diadakan perayaan Ekaristi untuk mengenang Perjamuan Malam Terakhir Tuhan Yesus dengan Para MuridNya,dan peristiwa Yesus membasuh kaki Para MuridNya.

      Jum’at Agung

      Hari Jum’at Agung sebagai acara puncak perayaan Semana Santa dilakukan untuk mengenang Wafatnya Tuhan Yesus yang diawali dengan perarakan bahari membawa Arca “Tuan Maninu”(Tuhan Yesus) menggunakan Perahu dengan melawan arus melintasi selat Gonzalo dan berakhir di Pantai Kuce lalu menahtakanNya di Kapela Pohon Siri,depan Istana Raja Larantuka.Arca Tuan Ma pun diarak dari Kapelanya menuju Gereja Kathedral.Pada sore hari pukul 15.00,Patung Tuan Missericordia juga diarak dari Kapelanya di Pantai Besar menuju Pantai Kuce.Dalam ritual ini,perarakan akan mengelilingi Kota Larantuka dengan menyinggahi delapan tempat perhentian(Armida) yaitu:

      • Armida Missericordia
      • Armida Tuan Maninu
      • Armida St.Philipus
      • Armida Tuan Trewa
      • Armida Pantekebi
      • Armida St.Antonius
      • Armida Kuce
      • Armida Desa Lohayong

      Sabtu Alleluya

      Secara umum dalam tradisi Gereja Khatolik modern,satu hari setelah Jum’at Agung disebut Sabtu Suci,akan tetapi dalam tradisi Semana Santa menyebutnya Sabtu Alleluya dimana umat dan Peziarah mengarak kembali Arca Tuan Ma dan Tuan Ana dari Gereja Katedral menuju Kapelanya masing-masing,demikian juga dengan Arca Tuan Missericordia dan Arca Tuan Meninu diarak embali menuju Kapelanya.

      Minggu Paskah

      Pada hari Minggu Paskah diadakan perayaan Ekaristi  di setiap Gereja,dilanjutkan dengan perarakan Patung Maria Alleluya menuju Kapela Pantekebis.

      Sebagai penutup Prosesi Semana Santa diadakan acara “Sera Punto Dama” dari Mardomu Tuan Ma dan Tuan Ana yang lama kepada yang baru.Mardomu yang baru akan bertugas selama 1 tahun kedepan sampai Prosesi Semana Santa berikutnya.

      Sejarah Tradisi Semana Santa

      Tradisi Semana Santa di Larantuka,merupakan tradisi Gereja Khatolik lama yang diperkenalkan oleh Missionaris Potugis sejak 500 Tahun yang lalu.Kisah itu bermula saat ditemukannya Patung Bunda Maria Bersedih oleh seorang warga Larantuka pada Tahun 1510,Patung tersebut diduga berasal dari Kapal Portugis atau Spanyol yang karam.Patung tersebut lalu diserahkan kepada Raja Larantuka dan ditempatkan di Korke(Rumah Adat Suku Resiona).Penemuan ini menggerkan warga Larantuka saat itu dan menganggapnya sebagai benda Keramat(Agama Khatolik belum masuk Larantuka pada saat itu).

      Pada Tahun 1561 para Missionaris Portugis mulai menyebarkan Agama Khatolik dimulai dari Solor lalu tiba di Larantuka.Seorang Missionaris bernama Pastor  Manuel de Kagas bertemu dengan Raja Larantuka dan menjelaskan prihal Patung Tuan Ma yang mereka sembah adalah Bunda Maria.Bunda Maria memiliki Putra bernama Tuhan Yesus Sang Juru Selamat.

      Raja Larantuka dibabtis Khatolik

      Sejak saat itu Agama Khatolik mulai disebarkan diseluruh wilayah Larantuka dan diterima dengan oleh masyarakat setempat.Pada Tahun 1650 Raja Larantuka Ola Adobala dibabtis Khatolik dan menyerahkan Kerajaannya Kepada Bunda Maria.Pada Tahun 1665 Putra Raja Ola Adobala yaitu Raja Don Gaspar I mulai mengarak Patung Bunda Maria mengelilingi Larantuka dan menjadi cikal bakal prosesi Semana Santa sampai sekarang.Selanjutnya Raja Don Lorenzo memberi kepada Gelar Bunda Maria (Tuan Ma) sebagai Raja tertinggi Orang Larantuka dan menjadi Ratu Pelindung Kota,dalam bahasa Portugis disebut Kota Reinha.

      Sejak itu Kota Larantuka  menjadi tonggak sejarah peradapan Khatolik di Pulau Flores,para missionaris lalu menuju Flores Tengah dan barat menyebarkan Agama Khatolik.Saat ini jumlah penganut Agama Khatolik di Pulau Flores mencapai 85% dari total pupulasi penduduk yang terbagi dalam 211 Gereja Paroki dan 4 Keuskupan yaitu:

      • Keuskupan Agung Ende
      • Keuskupan Ruteng
      • Keuskupan Maumere,dan
      • Keuskupan Larantuka.

       

      Terima kasih

       

       

      Ditulis Oleh

      Gerry M

       

       

    Leave a comment

    If you want to share your opinion, leave a comment.

    You may use these HTML tags and attributes:

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

    WhatsApp chat