• +6285339226561
  • komodoamazing92@gmail.com
    • WAE REBO, KAMPUNG ADAT SUKU MANGGARAI-FLORES

      Wae Rebo merupakan salah satu Kampung Adat Suku Manggarai yang masih asli dan menjaga tradisi leluhur secara turun temurun.Kampung Adat Wae Rebo terletak di Desa Satar Lenda,Kec.Satarmese Barat,Kab.Manggarai-NTT,sedangkan secara geografis Kampung Wae Rebo berada pada ketinggian 1.200 mdpl dan dikelilingi oleh Pegunungan dengan hutan tropis yang lebat.Daerah ini cukup terisolasi dari kehidupan luar,untuk kebutuhan pangan penduduk mengandalkan sawah dan ladang warisan leluhur yang dikelola secara manual dengan mengandalkan keselarasan hidup dengan alam ciptaan Tuhan.Jika anda penat dengan kehidupan kota yang serba sibuk ,luangkan waktu sejenak untuk menyepi di Kampung Wae Rebo sambil menikmati segelas kopi panas hidangan Gadis Manggarai,hiruplah segarnya udara pagi bercampur dengan sari kopi panas yang mengepul.Imajinasi akan melayang menembus kabut pagi dengan membayangkan kehangatan masyarakat “Kampung diatas Awan,Wae Rebo”.

      Sejarah

      Menurut riwayat sejarah lisan turun-temurun leluhur masyarakat Wae Rebo bernama Maro dan berasal dari Minangkabau(Sumatera Barat).Pada saat kedatangannya dari Minangkabau,leluhur Maro tinggal di Warloka,Flores Barat(Warloka merupakan tempat ditemukannya situs Megalitikum berupa balok dan kursi batu),selanjutnya leluhur Maro pindah ke Nanga Pa’ang lalu pindah lagi  ke Todo(sala satu Kampung adat suku Manggarai) dari Todo berpindah lagi menuju Golo Pandu dan akhirnya menetap di Wae Rebo.Sejak kedatangan Maro dari Minangkabau hingga saat ini,kampung adat Wae Rebo sudah memasuki generasi yang ke-20.

      Niang “Rumah Adat”

      Rumah adat orang Manggarai secara umum disebut “Niang”,dan di Kampung Adat Wae Rebo ada 7 Niang,yaitu:

      • Niang Gendang Maro(Rumah adat utama)
      • Niang Mandok
      • Niang Jekong
      • Niang Ndorom
      • Niang Pirong
      • Niang Jintam
      • Niang Maro

      Secara keseluruhan Rumah adatnya tidak boleh lebih dari 7, setiap rumah dihuni oleh 6-8 Kepala Keluarga,jika ada warga Kampung yang mau membangun rumah baru harus di luar Kampung adat.Keunikan dari setiap Rumah adat adalah bentuknya yang kerucut dengan atap ijuk,Pada bagian bawah berbentuk bulat dengan 1 pintu melengkung di bagian depan.Dari 7 Rumah adat diatas,Niang Gendang Maro merupakan Rumah adat utama,dan merupakan tempat tinggal leluhur pertama “Maro” yang datang dari Minangkabau.

      Niang Gendang Maro memiliki tinggi 14 meter,jauh lebih tinggi dari 6 niang yang lain,pada bubungan atap Niang ini ditancapkan kepala Kerbau sebagai symbol Rumah adat utama.Ketujuh Rumah Adat ini memiliki 5 Lantai,yaitu Lantai dasar untuk tempat tinggal kemudian Lantai kedua sampai keempat digunakan sebagai lumbung untuk menyimpan cadangan makanan dan benih seperti Padi,jagung,dan umbi-umbian,sedangkan bagian yang paling atas  untuk menghormati arwah leluhur.

      Acara Adat Penti

      Setiap bulan September atau November masyarakat Kampung adat Wae Rebo menyelenggarakan acara adat “Penti” yaitu ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen selama setahun dan memohon berkat kepada yang maha kuasa di tahun yang akan datang.Dalam acara ini masyarakat  melakukan berbagai ritual termasuk memberikan sesajian berupa Babi dan ayam untuk menghormati arwah leluhur.Selama acara berlangsung seluruh masyarakat mengenakan busana adat khas Manggarai baik laki-laki maupun perempuan,untuk meramaikan upacara masyarakat mementaskan berbagai jenis tarian adat salah satunya adalah Tarian “CACI” yaitu tarian perang yang dipentaskan oleh pria.

      Tarian CACI berasal dari dua suku kata yaitu “CA” artinya Satu dan “CI” artinya Uji jadi CACI adalah tarian untuk menguji ketangkasan (satu lawan satu),dimana dua orang peserta secara bergiliran memukul menggunakan Cambuk yang disebut :Larik/Kalus”dan menangkis menangkis menggunakan Tameng yang disebut “Nggiling dan Agang” yang terbuat dari kulit kerbau dan Bambu.Setiap kulit yang terluka dan darah dari Pemain caci yang menetes dipercaya sebagai anugerah yang Maha kuasa untuk kemakmuran dan keseimbangan hidup antara manusia dengan alam.

      Akses dan Transportasi

      Untuk mencapai Kampung Adat Wae Rebo butuh perjuangan.Namun,rasa lelah dari setiap pengunjung akan terbayar oleh pemandangan yang menakjubkan serta keramahan penduduk dalam menyambut setiap pengunjung yang datang.Ada dua rute untuk mencapai Kampung Wae Rebo,yaitu:

      Pertama,Rute Labuan Bajo – Pela(Pasar Sotor) sekitar 4 jam dengan angkutan umum lalu menuju Denge menggunakan angkutan umum khusus wilayah Pedesaan (Oto Kol) sekitar 3 jam.Desa Denge merupakan titik awal menuju Wae Rebo dengan melintasi Perkebunan Kopi masyarakat dan Pegunungan tropis yang hijau sekitar 2,5 jam dengan jalan kaki.

      Kedua,melalui Ruteng – Denge sekitar 5 jam dengan angkutan umum,dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Kampung Wae rebo sekitar 2,5 jam.Jika Pengunjung merasa kelelahan karena perjalanan yang panjang disarankan untuk menginap semalam di Kampung Denge ,ada beberapa homestay penduduk yang disediakan bagi pengunjung.

      Jika Pengunjung memilih transportasi private,ada beberapa travel agent Lokal di Labuan Bajo yang menyediakan Paket wisata ke Kampung Adat Wae Rebo salah satunya adalah “Komodo Amazing Tour&Travel”.

      Sektor Pariwisata

      Sejak Kampung Wae Rebo memenangkan Penghargaan “Asia Pacific Award for Culture Heritage Conservation” dari UNESCO tahun 2012, sudah puluhan ribu wisatawan dalam dan Luar Negeri berkunjung ke Wae Rebo.Untuk mendukung sektor ini Pemerintah Kab.Manggarai telah melatih masyarakat Wae Rebo  dalam melayani setiap pengunjung yang datang khususnya Management Pariwisata berbasis Budaya.Melalui sektor ini masyarakat dapat mempromosikan aneka jenis kerajinan tangan seperti Kain Tenun khas Manggarai(Songke),anyaman bamboo dan daun Pandan,serta biji Kopi yang menjadi andalan sektor perkebunan masyarakat Wae Rebo.Sedangkan untuk Tiket masuk setiap Pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp.325.000/orang,harga ini cukup ekonomis karena sudah termasuk Penginapan di Rumah Adat serta makan malam dan sarapan pagi.

      Sektor Pariwisata cukup menjanjikan dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat,apalagi keberadaan Kampung Adat ini masih satu wilayah dengan “Taman Nasional Komodo” dimana wisatawan dapat mengunjungi keduanya dalam satu kali kunjungan.

       

      Terima Kasih

      Ditulis oleh

      Gerry M

    Leave a comment

    If you want to share your opinion, leave a comment.

    You may use these HTML tags and attributes:

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

    WhatsApp chat